10

From Paris With Love

Posted by Gamada 08 on Nov 11, 2013 in Hang Out, Trending

Saya bukanlah penggemar film berat. Saya cuma bisa nonton film maksimal satu sampai satu setengah jam, lebih dari itu saya sering tertidur waktu bangun tahu-tahu filmnya selesai. Namun, minggu kemarin sewaktu saya sedang mencari-cari film yang enak untuk ditonton di laptop, saya menemukan film yang membuat mata saya betah menyaksikannya. Bahkan, film itu saya putar beberapa kali untuk sekedar memastikan apakah film itu dibuat berdasarkan imajinasi atau karya fiktif belaka.

Saya menduga film tersebut hanyalah sebuah karya biasa seperti kebanyakan film-film pada umumnya. Namun, dugaan saya ternyata keliru. Film yang saya tonton tersebut telah membuka teka-teki yang saya cari selama ini tentang isu spionase sebuah negara. Hal tersebut juga memperkuat keyakinan saya selama ini bahwa kita masih hidup dalam pengawasan sekelompok orang tertentu.

Nama filmya adalah From Paris With Love. Mungkin ada yang sudah pernah menontonnya. Film karya sutradara Pierre Morel (Prancis) ini dibintangi oleh James Reese (Jonathan Rhys Meyers), Charlie Wax (John Travolta), dan Caroline (Kasia Smutniak). Dirilis pada bulan Mei 2010, film itu menceritakan tentang pengalaman tokoh Reese yang berprofesi sebagai dinas intelejen AS. Ia ditugaskan untuk menjadi asisten duta besar AS untuk Perancis di Paris. Tugas asisten duta besar ternyata tidak hanya menyiapkan keprotokoleran saja untuk duta besar, lebih dari itu.

Salah satu adegan utama yang memunculkan inspirasi saya untuk menulis tulisan ini adalah pada saat Reese diminta untuk memasang alat sadap di kantor luar negeri Perancis. Kira-kira tujuan dari pemasangan alat tersebut adalah untuk mengumpulkan informasi terkait dengan aktifitas negara Perancis. Sebenarnya ceritanya cukup panjang untuk ditulis di sini, namun akan saya ringkas poin utamanya, paling tidak ada tiga genre yang dilibatkan dalam isi cerita film itu.

  • Romance: Ini digambarkan dengan adanya hubungan asmara antara Reese dengan Caroline. Konflik perasaan dalam film ini terasa ketika Reese mengetahui bahwa kekasihnya merupakan anggota dari komplotan teroris yang tengah diburunya. Dalam perjalanan cinta mereka, tersirat bahwa sang kekasih hanya memanfaatkan Reece untuk memantau tindak-tanduk pemerintahan Amerika di Paris.
  • Action: Reese dan Wax adalah dua partner intelejen AS yang sama-sama ditugaskan untuk mencegah aksi terorisme. Keduanya terlibat tembak-menembak dan pengejaran ke sarang teroris di Paris, setelah mengetahui bahwa Caroline adalah salah satu dari kawanan teroris.
  • Patriotism: Jika disimpulkan cerita dalam film ini berakhir pada sikap patriotisme dari tokoh Reese. Meskipun menghadapi dilema antara profesionalitas dan rasa cintanya pada sang kekasih, Reese bertekad untuk tetap menyelesaikan tugasnya. Karena tetap saja nasionalisme di atas segala-galanya.

Terlepas dari keseluruhan isi cerita yang ditampilkan dalam film tersebut. Ternyata bagian terpenting dari film itu sungguh terjadi dalam kehidupan kita sekarang.

Tentu masih ingat pemberitaan media masa dunia baru-baru ini tentang isu skandal penyadapan yang dilakukan oleh AS. Sebagimana kita ketahui melalui berbagai berita di dunia bahwa sejumlah negara merasa kecewa dengan tindakan AS setelah mendapat informasi bahwa AS menyadap data komunikasi dan percakapan telepon warganya. Negara-negara yang komplain antara lain Jerman, Perancis, Brazil, Mexiko, Spanyol, China dan Malaysia.

Skandal tersebut terungkap setelah mantan pekerja Badan Keamanan Amerika (NSA) yang bernama Edward Snowden membelot dan membeberkan laporan rahasia tentang kegiatan penyadapan komunikasi terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai teroris dan orang-orang penting petinggi negara di dunia oleh AS. AS sepertinya tidak sendirian dalam melakukan aksi spionasenya tersebut. Ini diperkuat oleh laporan dari surat kabar Australia, Sunday Morning Herald. Laporan itu menulis tentang kerja sama operasi Five Eyes yang dilakukan AS bersama negara berbahasa Inggris lainnya yaitu Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Aksi spionase memang bukanlah hal yang baru dalam dunia intelejen. Hampir semua negara, bahkan organisasi swasta dan bisnis pun memilikinya. Terkenal pula organisasi intelejen di tingkat dunia seperti CIA (AS), KGB (Uni Soviet/Rusia), MI-6 (Inggris), Mossad (Israel). Kira-kira bagaimana dengan Indonesia? Apakah juga ikut menjadi korban penyadapan? Sekiranya kementerian luar negeri kita baru-baru ini telah memanggil perwakilan intelejen AS dan kedutaan besar Australia untuk dimintai klarifikasi. Jika itu benar adanya maka cukuplah sudah kita hanya bisa menjadi penonton saja. Rasanya sangat sulit mencegah kejadian tersebut terulang karena penyadapan yang digunakan sekarang bisa jadi lebih canggih. Sepertihalnya alat-alat yang digunakan dalam film James Bond atau Men In Black. Cara kerja spoinase jaman sekarang tentu lebih canggih dari itu.

Kita pun sendiri mungkin juga pernah melakukannya. Contoh aksi spionase yang paling sederhana adalah stalking. Aksi ini biasa dilakukan oleh para pengguna internet di media jejaring sosial. Tujuannya bermacam-macam, ada yang cuma melihat-lihat profil pengguna akun facebook misalnya, melihat status dan komen pengguna lain, dan melacak informasi pribadi lainnya.

Seandianya kegiatan spionase melibatkan negara mungkin AS adalah rajanya karena mereka memiliki sejumlah puluhan bahkan ratusan perusahaan IT, yang menyediakan akses ke jaringan internet. Sebutlah contoh perusahaan raksasa IT di dunia yaitu Google dan Facebook. Kedua perusahaan tersebut memiliki miliaran pengguna dan tentu saja terdapat arus informasi data yang bertebaran di dalam sistem kendali mereka yang jumlahnya miliaran bahkan triliunan data. Mereka bisa saja diminta otoritas di sana untuk mengawasi arus informasi pengguna yang dianggap berbahaya atau kepentingan lain dengan dalih untuk keamanan negara, who knows?

Tags: , , , ,

Copyright © 2020 Both, Play Hard Work Hard All rights reserved. Theme by Laptop Geek.