3,162

Memanfaatkan 5 dalam ‘Character Building’

Posted by Gamada 08 on Oct 13, 2011 in Uncategorized

 Sukses hari ini adalah adalah musuh bagi kita pada waktu yang akan datang. Sukses hari kemarin adalah musuh kita hari ini. Arti dari dua kalimat yang mengawali tulisan ini adalah kita harus senantiasa memacu diri kita untuk menjadi lebih baik. Lebih baik untuk biasa bangun pagi, lebih baik dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan, lebih baik dalam mengisi waktu luang, merupakan sedikit contoh yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan.

Upaya memperbaiki diri merupakan kuncinya. Jadi tidak salah jika pada hari Sabtu kemarin, aq memanfaatkan waktu luangku untuk mengikuti kegiatan outbond yang difasilitasi oleh Direktorat Kemahasiswaan UGM. Acara outbond yang aq ikuti tersebut berlangsung di Dangau Hasanah, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Pesertanya terdiri dari berbagai fakultas dan angkatan yang terjaring sebagai penerima beasiswa dari UGM. Pelaksanaan event tersebut mengambil tema “Aboundance Character Building” yang kurang lebih dapat diterjemahkan sebagi upaya pembangunan karekater di tengah keberlimpahan potensi diri.

Perjalanan outbond tersebut aq rekam dalam sebuah catatan perjalanan hidup. Aq mengandaikan outbond tersebut adalah suatu kehidupan. Ada beberapa unsur yang perlu kita ingat dalam memaknai suatu kehidupan diantaranya, ada manusia sebagai subyek kehidupan, ada tujuan yang hendak dicapai manusia, dan ada batasan-batasan tertentu. Subyek dari kehidupan adalah kita sendiri yang memiliki banyak tujuan yang ingin kita capai dengan keterbatasan yang ada, namun tidak semua keinginan dapat kita penuhi karena ada faktor-faktor tertentu di luar kontrol kita.

Life is like a game, tidak dapat dihindari memang, hidup ini merupakan ribuan bahkan jutaan tantangan. Tantangan yang harus kita hadapi seringkali menuntut hanya seorang saja yang dapat disebut sebagai pemenang. Karena seorang pemenang merupakan orang terbaik dalam menaklukan tantangan. Inilah kemudian mendorong kita untuk bersaing dalam memperebutkan sesuatu yang terbatas tersebut.

Kata kunci untuk mendapatkan predikat sebagai orang terbaik diantaranya, strategi yaitu cara yang cepat dan tepat dalam menaklukan suatu tantangan, komunikasi yaitu penyampaian pesan yang lancar dalam suatu tim, memanfaatkan peluang dengan baik, memanfaatkan resources (fasilitas) dengan optimal, dan itu kuncinya.

Predikat sebagai seorang pemenang adalah dambaan setiap orang, namun puncak kepuasan seseorang tidak dapat diperoleh ketika ia telah menang dan menyisihkan semua lawan. Kepuasan seorang pemenang diperoleh ketika ia mau dan mampu untuk berbagi kemanangan itu tidak hanya untuk diri sendiri artinya manfaat yang diperoleh dapat dirasakan oleh orang lain. Kelebihan-kelebihan yang kita miliki merupakan hasil kita menaklukan tantangan, oleh karena itu menularkannya kepada orang lain bukanlah hal yang buruk.

Selanjutnya sukses yang kita raih harus dapat dipertanggungjawabkan. Sukses itu bukan hanya urusan tercapainya suatu tujuan, lebih dari itu cara bagaimana kita melalui tantangan dalam mencapai suatu tujuan merupakan sesuatu hal yang sama penting dengan tujuan itu sendiri. Ada suatu proses yang harus kita jalani dalam mencapai suatu tujuan. Proses itu dapat berhubungan dengan kualitas hasil yang kita capai dan kuantitas hasil yang kita peroleh. Cara kita mencapai tujuan menentukan kualitas hasil yang kita dapatkan dan hal tersebut mempengaruhi kepuasan orang lain yang memberikan tugas kepada kita. Jika kita hanya memperhatikan diri sendiri sebagai penilai atas perolehan hasil yang kita capai maka orang lain yang memberi tugas kepada kita tidak akan merasa puas. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk menyertakan kualitas sebagai tujuan dari kita sehingga orang lain juga akan merasakan kepuasan.

Sukses itu adalah apabila kita mampu mencapai suatu tujuan dengan cara yang sesuai dan berdampak positif bagi orang lain. Dalam rangka mencapai keseuksesan ada lima hal yang perlu kita manfaatkan, yaitu:

  • Kecerdasan fisik
  • Kecerdasan intelektual
  • Kecerdasan emosional
  • Kecerdasan spiritual
  • Kecerdasan survival

 
1,698

KKN: Nyinom di Ngemplak

Posted by Gamada 08 on Jul 25, 2011 in Uncategorized

Ada sesuatau yang istimewa takala aq sedang melaksanakan KKN di Dusun Ngemplak, Desa Trimulyo, Kecamatan Sleman. Kami keluarga Subunit Ngemplak diminta oleh warga untuk memeriahkan acara hajatan pernikahan salah satu warga. Awalnya permintaan itu hanyalah sebatas wacana, namun setelah kami berembug bersama akhirnya kami memutuskan untuk terlibat dalam acara hajatan pernikahan tersebut. Lagi pula pihak yang sedang merayakan kebahagiaan tersebut adalah salah seorang perangkat Desa Trimulya yaitu Mas Surahmin yang menjabat sebagai kesra (kesejahteraan rakyat).

Rapat persiapan pun digelar yaitu dua minggu sebelum hari pelaksanaan atau tanggal 13 Juli. Pada pelaksanaan rapat persiapan tersebut banyak warga yang datang. Mereka datang dengan spesialsiasi kerja masing-masing. Dari hasil rapat itu dibentuklah panitia penikahan Mas Surahmin. Secara pribadi baru pertama kalinya ini aq ikut rapat panitia pernikahan. Rapat pembentukan panitia pernikahan pada umumnya dihadiri oleh keluarga yang akan menikah, namun di Ngemplak kami semua mendapat kesempatan untuk berkumpul bersama warga menghadiri rapat pembentukan panitia pernikahan tersebut. Saat pembentukan panita pernikahan itu dipilihlah seksi-seksi yang mengurusi “Mantenan”. Ada beberapa seksi diantaranya:

Þ     Sinoman

Þ     Konsumsi

Þ     Pencuci gelas dan piring

Þ     Perlengkapan

Þ     Pasang tenda

Þ     Dekorasi ruang tamu

Þ     Dekorasi tarub

Þ     Dokumentasi

Þ     Pranata acara atau MC

Þ     Pembaca Do’a

Þ     Kesenian

Þ     Receiptionist

Pada saat penunjukan pj per seksi aku memilih untuk menjadi bagian dokumentasi sementara teman-teman yang lain memilih untuk mendapatkan job sebagai pelayan tamu atau sinom. Pada rapat itu sekaligus ditetapkan acara perayaan pernikahan yaitu tanggal 22, 23, dan 24 Juli serta rencana pelepasan panitia yaitu tanggal 27 Juli. Rapat malam itu berlangsung dari jam 19.30 sampai jam 22.00. Ternyata untuk mempersiapkan acara hajatan besar memang perlu waktu yang cukup panjang. Di sini kami keluarga sub unit Ngemplak ingin belajar bermasyarakat. Kemauan kami untuk bersedia berbaur warga masyarakat begitu besar. Acara hajatan pernikahan adalah media untuk lebih mendekatkan kami dengan warga sekaligus sebagai area pembelajaran bermasyarakat. Akhirnya kami hanya bisa berharap mudah-mudahan acara pelaksanaan hajatan pernikahan dapat berjalan dengan lancar.

Hari Jumat tanggal 22 Juli adalah persiapan pemasangan tenda sekaligus mempersiapkan perlengkapan hajatan semacam hiasan janur, meja, kursi, dsb. Aq membaurkan diri untuk ikut dalam persiapan itu. Awalnya aq mengajak teman-teman laki-laki keluarga Ngemplak, namun karena semua sedang ada agenda pribadi aq tidak bisa memakasakan sehingga aku pergi sendiri karena warga yang lain sudah berkumpul di halaman depan Mas Surahmin. Aq membantu menganggkut perlengkapan meja dan kursi ke rumah Mas Surahmin. Perlengkapan yang dipergunakan dalam acara hajatan itu tidak semuanya diperoleh dari jasa persewaan, namun ada pula yang merupakan inventaris milik warga Dusun Ngemplak sendiri. Menurut pak dukuh yang juga ikut dalam persiapan acara hajatan itu menuturkan bahwa Dususn Ngemplak telah memiliki perelengkapan yang biasa dipakai dalam acara hajatan semacam tenda, meja, kursi, gelas, piring, dll. Perlengkapan-perlengkapan itu adalah milik warga Dusun Ngemplak yang diperoleh dari hasil usaha sendiri atau swakarsa dari masyarakat Ngemplak. Warga Ngemplak mengumpulkan uang bersama-sama untuk membeli perlengkapan itu dengan jumlah semampunya. Prinsip dari swakarsa itu mirip dengan prinsip koperasi yaitu dari, oleh, dan untuk masyarakat Ngemplak. Pihak yang bisa memanfaatkan perlengkapan itu diutamakan untuk Warga Ngemplak.

Begitu sampai di rumah Mas SurahmIn kami langsung disuguhi hidangan pagi. Mesipun bukan makanan besar, pastinya sudah mengenyangkan karena untuk pagi ini aq sudah makan dulu. Selesai makan, aku menggabungkan diri dengan warga lain untuk mengangkut perlengkapan-perlengpaan itu di rumah salah satu warga dengan menaiki pick-up. Berada di belakang pick-up dengan celana pendek berbaju biru, itulah aku. Pengalaman pertama dalam membuat hiasan hajatan pernikahan aku alami di sini. Aq belajar bagaimana membuat hiasan dari daun kelapa. Daun pohon kelapa yang awalnya hanya berada di pohon belum termanfaatkan setelah berada di tangan para ahli keterampilan berubah menjadi hiasan yang indah dan bernilai seni. Bapak-bapak pembuat hiasan itu memiliki kreativitas yang tinggi, buktinya adalah daun-daun pohon kelapa itu kini telah menjadi hiasan yang sangat menarik.

Demikianlah ceritaku di KKN kali ini, kalau kamu….@ I’ll be back. Don’t  go anywhere. Keep stay on your keyboard

 

 

 
48

GT: Di Balik Harapan Terdapat Unsur Ketidakpastian

Posted by Gamada 08 on Jun 9, 2011 in Catatan Mahasiswa

Ada kecenderungan seseorang memilih untuk mendapat hadiah dengan nominal moneter sedikit, tanpa diikuti dengan pembayaran bermacam-macam daripada mendapat hadiah dengan nilai moneter besar, tetapi pada saat penerimaan hadiah si penerima diminta untuk membayar berbagai biaya misal biaya administrasi, biaya pengiriman, PPN, dll. Hal ini dibuktkan dengan eksperimen kecil yang dilakukan di dalam kelas game teori yang dilakukan pada pertemuan minggu lalu yang membahas tentang konsep Loss & Forgone Gain. Rule of game dari permainan ini cukup sederhana. Ada dua pasangan pilihan pekerjaan dengan karaktersitik risiko dan keuntungan yang berbeda. Seseorang diminta untuk mengemukakan preferensinya antara pilihan pekerjaan  A atau B. Jika seseorang memilih pekerjaan A ada kesempatan bagi seseorang untuk mendapat keuntungan atau menderita kerugian, masing-masing sebesar 50%. Jika seseorang memilih pekerjaan B dia pasti mendapat keuntungan sebesar nilai moneter Rp25.000,00. Permainan yang kedua pilihannya diganti C dengan D. Jika seseorang memilih C ada ancaman untuk menderita rugi minimal atau rugi maksimal, jika rugi minimal besarnya rugi adalah sebesar RpO sedangkan jika rugi maksimal besarnya rugi adalah Rp50.000,00 probabilitinya fifty-fifty  dan jika seseorang memilih D maka besarnya kerugian yang diderita orang tersebut dapat dipastikan sebesar Rp25.000,00 .

Sebenarnya, jika dihitung secara matematis seseorang yang memilih pekerjaan dengan hasil yang tidak pasti (probabilitas untung atau rugi sama-sama 50%) dengan memilih pekerjaan yang sama sekali tidak ada risikonya, tetapi memberikan keuntungan sebesar Rp25.000,00 maka meskipun sama-sama memperoleh hasil yang indifference (sama) di akhir perhitungan Pa=Pb, pertanyaannya kenapa kebanyakan orang justru lebih memilih pilihan B ketimbang A. Simpel saja, Hal ini ternyata ada yang mempengaruhinya. Penjelasan tentang hal ini dapat diketahui setelah diadakannya eksperimen mengenai perilaku ekonomi antarseseorang yang ternyata dipengaruhi oleh tingkat risiko salah satunya. Semakin tinggi uncertainty untung atau rugi yang akan diterima seseorang, maka orang tersebut cenderung untuk melakukan aktivitas ekonomi yang aman-aman saja (memilih pilihan B) karena pilihan B tingkat risiko kehilangan uang lebih kecil dibanding A atau justru tidak ada sama sekali.

Eksperimen tersebut sekarang diperluas. Jika eksperimen awal menggenaralisir bahwa kebanyakan orang berperilaku risk averse terhadap uncertainty maka dengan perluasan eksperimen sekarang dibedakan subyek penelitiannya yaitu antara laki-laki dan perempuan. Observasi dilakukan kepada usahawan dengan menggunakan teknik random sampling. Hasilnya cukup mengejutkan ternyata gender mempengaruhi secara signifikan terhadap perilaku ekonomi seseorang.

Temuan di lapangan menunjukkan usahawan pria cenderung loss adverse (ekstra konservatif) daripada wanita. Usahawan pria memilih untuk melakukan kegiatan ekonomi dengan uncertainty yang rendah dari pada bertaruh untuk hal yang tidak pasti. Temuan ini beralasan karena pada dasarnya pria adalah kepala rumah tangga. Ia bertanggungjawab terhadap istri, anak, beserta anggota keluarga yang lain. Kewajiban seorang suami adalah memberi nafkah keluarganya, jadi agar bisa mencukupi nafkah tersebut seorang suami harus memiliki penghasilan. Besar kecilnya penghasilan berhubungan dengan jenis pekerjaan dan risiko pekerjaan.  Unsur uncertainty terdapat pada risiko pekerjaan sehingga jika dihadapkan antara dua macam pilihan seperti hal di atas  maka kecenderungan usahawan pria lebih memilih untuk survive dengan keuntungan minimal tanpa risiko daripada untung maksimal dengan penuh risiko.

 
8

GT: Uncertainty

Posted by Gamada 08 on Jun 9, 2011 in Catatan Mahasiswa

Ada kecenderungan seseorang memilih untuk mendapat hadiah dengan nominal moneter sedikit, tanpa diikuti dengan pembayaran bermacam-macam daripada mendapat hadiah dengan nilai moneter besar, tetapi pada saat penerimaan hadiah si penerima diminta untuk membayar berbagai biaya misal biaya administrasi, biaya pengiriman, PPN, dll. Hal ini dibuktkan dengan eksperimen kecil yang dilakukan di dalam kelas yang disasarkan atas konsep Loss & Forgone Gain. Rule of game dari permainan ini cukup sederhana. Ada dua pasangan pilihan pekerjaan dengan karaktersitik risiko dan keuntungan yang berbeda. Seseorang diminta untuk mengemukakan preferensinya antara pilihan pekerjaan  A atau B. Jika seseorang memilih pekerjaan A ada kesempatan bagi seseorang untuk mendapat keuntungan atau menderita kerugian, masing-masing sebesar 50%. Jika seseorang memilih pekerjaan B dia pasti mendapat keuntungan sebesar nilai moneter Rp25.000,00. Permainan yang kedua pilihannya diganti C dengan D. Jika seseorang memilih C ada ancaman untuk menderita rugi minimal atau rugi maksimal, jika rugi minimal besarnya rugi adalah sebesar RpO sedangkan jika rugi maksimal besarnya rugi adalah Rp50.000,00 probabilitinya fifty-fifty  dan jika seseorang memilih D maka besarnya kerugian yang diderita orang tersebut dapat dipastikan sebesar Rp25.000,00 .

Sebenarnya, jika dihitung secara matematis seseorang yang memilih pekerjaan dengan hasil yang tidak pasti (probabilitas untung atau rugi sama-sama 50%) dengan memilih pekerjaan yang sama sekali tidak ada risikonya, tetapi memberikan keuntungan sebesar Rp25.000,00 maka meskipun sama-sama memperoleh hasil yang indifference (sama) di akhir perhitungan Pa=Pb, pertanyaannya kenapa kebanyakan orang justru lebih memilih pilihan B ketimbang A. Simpel saja, Hal ini ternyata ada yang mempengaruhinya. Penjelasan tentang hal ini dapat diketahui setelah diadakannya eksperimen mengenai perilaku ekonomi antarseseorang yang ternyata dipengaruhi oleh tingkat risiko salah satunya. Semakin tinggi uncertainty untung atau rugi yang akan diterima seseorang, maka orang tersebut cenderung untuk melakukan aktivitas ekonomi yang aman-aman saja (memilih pilihan B) karena pilihan B tingkat risiko kehilangan uang lebih kecil dibanding A atau justru tidak ada sama sekali.

Eksperimen tersebut sekarang diperluas. Jika eksperimen awal menggenaralisir bahwa kebanyakan orang berperilaku risk averse terhadap uncertainty maka dengan perluasan eksperimen sekarang dibedakan subyek penelitiannya yaitu antara laki-laki dan perempuan. Observasi dilakukan kepada usahawan dengan menggunakan teknik random sampling. Hasilnya cukup mengejutkan ternyata gender mempengaruhi secara signifikan terhadap perilaku ekonomi seseorang.

Temuan di lapangan menunjukkan usahawan pria cenderung loss adverse (ekstra konservatif) daripada wanita. Usahawan pria memilih untuk melakukan kegiatan ekonomi dengan uncertainty yang rendah dari pada bertaruh untuk hal yang tidak pasti. Temuan ini beralasan karena pada dasarnya pria adalah kepala rumah tangga. Ia bertanggungjawab terhadap istri, anak, beserta anggota keluarga yang lain. Kewajiban seorang suami adalah memberi nafkah keluarganya, jadi agar bisa mencukupi nafkah tersebut seorang suami harus memiliki penghasilan. Besar kecilnya penghasilan berhubungan dengan jenis pekerjaan dan risiko pekerjaan.  Unsur uncertainty terdapat pada risiko pekerjaan sehingga jika dihadapkan antara dua macam pilihan seperti hal di atas  maka kecenderungan usahawan pria lebih memilih untuk survive dengan keuntungan minimal tanpa risiko daripada untung maksimal dengan penuh risiko.

 

Copyright © 2020 Both, Play Hard Work Hard All rights reserved. Theme by Laptop Geek.