2,778

Ciuss Miapa: Celoteh Polemik Menggugat KIK

Posted by Gamada 08 on Nov 18, 2012 in Trending

Baru-baru ini keheningan civitas akademika UGM terusik. Rupa-rupanya ada yang marah dengan salah satu kebijakan yang diterapkan UGM. Salah satu kebijakan yang diributkan akhir-akhir ini merebak di media masa adalah tentang disinsentif parkir atau lebih dikenal dengan KIK (Kartu Idenditas Kendaraan).

Pada intinya, KIK merupakan suatu instrumen berbentuk kartu yang dikeluarkan UGM yang fungsinya untuk mengendalikan jumlah kendaraan parkir dan pencemaran udara oleh kendaraan bermotor di lingkungan kampus UGM.  Dengan kartu tersebut, pemilik kendaraan yang nomornya tercantum dalam KIK bisa memarkirkan kendaraanya di lokasi tertentu yang disediakan kampus UGM.

Ide dasar penerbitan KIK adalah sebagai upaya UGM untuk menjadi kampus educopolis. UGM ingin menciptakan suasana kampus yang nyaman dan kondusif bagi setiap civitas akademika kampus yang beraktivitas di lingkungan UGM. Dampak dari pemberlakukan KIK memang cukup beragam. Bagi civitas akademika kampus UGM kebijakan tersebut banyak yang menguntungkan, namun kurang menguntungkan bagi pihak lain. Manfaat yang dirasakan civitas akademika kampus UGM jelas yaitu rasa aman untuk memarkir kendaraannya di lingkungan kampus, rasa nyaman untuk menikmati sarana dan prasarana di lingkungan kampus, rasa nyaman karena bisa melihat suasana kampus yang bersih, teratur parkirnya dan bisa mendorong munculnya ide-ide kreatif atau inovasi.

Kenyamanan yang saya rasakan dan civitas akademika kampus UGM yang lain mungkin membuat orang lain tidak senang. Buktinya ada pihak yang menggugat kebijakan KIK yang diterapkan UGM. Pihak penggugat beralasan KIK melanggar hukum atau HAM karena melarang selain orang UGM masuk ke sana. Iyo po?

Dari pengalaman pribadi, KIK relatif banyak memberikan dampak positif bagi saya. Saya kuliah di UGM pada tahun ajaran 2008/2009. Pada awal saat saya masuk di lingkungan kampus UGM saya merasakan kondisi yang benar-benar mengharukan. Di sana-sini ada banyak orang berlalu lalang, bukan mahasiswa lebih tepatnya adalah pelancong. Ya banyak pelancong di UGM karena sebagian besar mahasiswa berasal dari berbagai wilayah di Indonesia maka status mereka bisa menjadi pelancong kalau sedang tidak lagi kuliah. Nah karena ada banyak pelancong maka hal tersebut menarik perhatian kaum pedagang. Pedagang menggelar makanan dan minuman di sepanjang jalan menuju UGM. Iya, benar- benar seperti tempat wisata yang pernah kita lihat di tempat-tempat lainnya. Sepertinya pada saat itu wajah UGM sebagai kampus seolah-olah hilang dengan hiruk pikuknya orang berlalu lalang, baik yang berjalan, bersepeda, bermobil, berbecak, berbis, dll. Akan tetapi, dua tahun berikutnya saya melihat kempus UGM mulai berbenah.

Sebetulnya sebelum kebijakan KIK diterapkan, civitas akademika kampus UGM seolah-olah terbelah menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang setuju dengan penerapan KIK dan kelompok yang tidak mendukung KIK. Kelompok yang tidak mendukung KIK berargumen bahwa KIK merupakan suatu bentuk komersialisasi kampus dan ujung-ujungnya dikaitkan dengan isu kapitalisme.

Saya pribadi kurang sependapat dengan kelompok kedua. Apalagi bentuk ketidaksetujuan mereka diekspresikan lewat demonstrasi. Walaupun, hal tersebut dilakukan dalam masa yang tidak besar, saya pikir tindakan tersebut bukan membawa solusi justru yang mereka hasilkan adalah sensasi, seperti media di televisi yang cuma caper.

Saya mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan pihak kampus untuk menuju kampus educopolis. Ketika beberapa pihak menyoroti tentang dampak sosial ekonomi pascaimplementasi KIK, pihak kampus sudah dahulu menyipkan lokasi khusus bagi pedagang-pedagang yang dahulu bertebaran mencari rezeki di linkungan kampus UGM. Jika dahulu pada saat saya pertama kali masuk di lingkungan kampus UGM saya bisa menemukan dengan mudah warung makan dadakan di sepanjang jalan menuju GSP (Graha Sabha Pramana) maka sejak diimplementasikannya KIK para pedagang menempati area khusus tempat berjualan yang berlokasi di barat gelanggang mahasiswa. Hal tersebut disamping memudahkan mahasiswa menemukan makanan favorit, tentu juga memberikan nilai ekonomi bagi pedagang.

Nah untuk mereka yang bukan orang UGM masih bisa kok lewat di UGM. Dan mereka juga tidak disuruh membayar. Kalau kebijakannya belum berubah, setahu saya setiap kendaraan yang melintas di wilayah UGM yang tidak punya KIK melalui portal masuk maka akan diberikan karcis. Nah, saat kembali ke portal keluar dari UGM tunjukkan karcisnya pada petugas, jangan sampai hilang. Kalau hilang nanti brabe ditanyaain ini itu. Wis.

Tags:

Copyright © 2020 Both, Play Hard Work Hard All rights reserved. Theme by Laptop Geek.