1,698

KKN: Nyinom di Ngemplak

Posted by Gamada 08 on Jul 25, 2011 in Uncategorized

Ada sesuatau yang istimewa takala aq sedang melaksanakan KKN di Dusun Ngemplak, Desa Trimulyo, Kecamatan Sleman. Kami keluarga Subunit Ngemplak diminta oleh warga untuk memeriahkan acara hajatan pernikahan salah satu warga. Awalnya permintaan itu hanyalah sebatas wacana, namun setelah kami berembug bersama akhirnya kami memutuskan untuk terlibat dalam acara hajatan pernikahan tersebut. Lagi pula pihak yang sedang merayakan kebahagiaan tersebut adalah salah seorang perangkat Desa Trimulya yaitu Mas Surahmin yang menjabat sebagai kesra (kesejahteraan rakyat).

Rapat persiapan pun digelar yaitu dua minggu sebelum hari pelaksanaan atau tanggal 13 Juli. Pada pelaksanaan rapat persiapan tersebut banyak warga yang datang. Mereka datang dengan spesialsiasi kerja masing-masing. Dari hasil rapat itu dibentuklah panitia penikahan Mas Surahmin. Secara pribadi baru pertama kalinya ini aq ikut rapat panitia pernikahan. Rapat pembentukan panitia pernikahan pada umumnya dihadiri oleh keluarga yang akan menikah, namun di Ngemplak kami semua mendapat kesempatan untuk berkumpul bersama warga menghadiri rapat pembentukan panitia pernikahan tersebut. Saat pembentukan panita pernikahan itu dipilihlah seksi-seksi yang mengurusi “Mantenan”. Ada beberapa seksi diantaranya:

Þ     Sinoman

Þ     Konsumsi

Þ     Pencuci gelas dan piring

Þ     Perlengkapan

Þ     Pasang tenda

Þ     Dekorasi ruang tamu

Þ     Dekorasi tarub

Þ     Dokumentasi

Þ     Pranata acara atau MC

Þ     Pembaca Do’a

Þ     Kesenian

Þ     Receiptionist

Pada saat penunjukan pj per seksi aku memilih untuk menjadi bagian dokumentasi sementara teman-teman yang lain memilih untuk mendapatkan job sebagai pelayan tamu atau sinom. Pada rapat itu sekaligus ditetapkan acara perayaan pernikahan yaitu tanggal 22, 23, dan 24 Juli serta rencana pelepasan panitia yaitu tanggal 27 Juli. Rapat malam itu berlangsung dari jam 19.30 sampai jam 22.00. Ternyata untuk mempersiapkan acara hajatan besar memang perlu waktu yang cukup panjang. Di sini kami keluarga sub unit Ngemplak ingin belajar bermasyarakat. Kemauan kami untuk bersedia berbaur warga masyarakat begitu besar. Acara hajatan pernikahan adalah media untuk lebih mendekatkan kami dengan warga sekaligus sebagai area pembelajaran bermasyarakat. Akhirnya kami hanya bisa berharap mudah-mudahan acara pelaksanaan hajatan pernikahan dapat berjalan dengan lancar.

Hari Jumat tanggal 22 Juli adalah persiapan pemasangan tenda sekaligus mempersiapkan perlengkapan hajatan semacam hiasan janur, meja, kursi, dsb. Aq membaurkan diri untuk ikut dalam persiapan itu. Awalnya aq mengajak teman-teman laki-laki keluarga Ngemplak, namun karena semua sedang ada agenda pribadi aq tidak bisa memakasakan sehingga aku pergi sendiri karena warga yang lain sudah berkumpul di halaman depan Mas Surahmin. Aq membantu menganggkut perlengkapan meja dan kursi ke rumah Mas Surahmin. Perlengkapan yang dipergunakan dalam acara hajatan itu tidak semuanya diperoleh dari jasa persewaan, namun ada pula yang merupakan inventaris milik warga Dusun Ngemplak sendiri. Menurut pak dukuh yang juga ikut dalam persiapan acara hajatan itu menuturkan bahwa Dususn Ngemplak telah memiliki perelengkapan yang biasa dipakai dalam acara hajatan semacam tenda, meja, kursi, gelas, piring, dll. Perlengkapan-perlengkapan itu adalah milik warga Dusun Ngemplak yang diperoleh dari hasil usaha sendiri atau swakarsa dari masyarakat Ngemplak. Warga Ngemplak mengumpulkan uang bersama-sama untuk membeli perlengkapan itu dengan jumlah semampunya. Prinsip dari swakarsa itu mirip dengan prinsip koperasi yaitu dari, oleh, dan untuk masyarakat Ngemplak. Pihak yang bisa memanfaatkan perlengkapan itu diutamakan untuk Warga Ngemplak.

Begitu sampai di rumah Mas SurahmIn kami langsung disuguhi hidangan pagi. Mesipun bukan makanan besar, pastinya sudah mengenyangkan karena untuk pagi ini aq sudah makan dulu. Selesai makan, aku menggabungkan diri dengan warga lain untuk mengangkut perlengkapan-perlengpaan itu di rumah salah satu warga dengan menaiki pick-up. Berada di belakang pick-up dengan celana pendek berbaju biru, itulah aku. Pengalaman pertama dalam membuat hiasan hajatan pernikahan aku alami di sini. Aq belajar bagaimana membuat hiasan dari daun kelapa. Daun pohon kelapa yang awalnya hanya berada di pohon belum termanfaatkan setelah berada di tangan para ahli keterampilan berubah menjadi hiasan yang indah dan bernilai seni. Bapak-bapak pembuat hiasan itu memiliki kreativitas yang tinggi, buktinya adalah daun-daun pohon kelapa itu kini telah menjadi hiasan yang sangat menarik.

Demikianlah ceritaku di KKN kali ini, kalau kamu….@ I’ll be back. Don’t  go anywhere. Keep stay on your keyboard

 

 

Copyright © 2020 Both, Play Hard Work Hard All rights reserved. Theme by Laptop Geek.