9

Pandangan Ekonomi mengenai Foreign Direct Investment (FDI)

Posted by Gamada 08 on May 20, 2011 in Trending
Saya sebetulnya sudah diingatkan untuk berhati-hati dalam menyatakan suatu istilah yang cukup riskan apabila diungkapkan kepada orang awam. Karena istilah ini menurut sebagian orang perlu sekali dalam membangun perekonomian suatu negara, namun ada pula yang merasa “tersakiti” jika mendengar istilah ini, Orang menyebut istilah ini dengan nama Foreign Direct Investment (FDI).

Terlepas dari pandangan ekstrim dari dua kubu golongan masyarakat yang setuju (proponent) dengan yang menolak (opponent) terhadap FDI saya ingin mengajak rekan-rekan dan diri saya pribadi tentunya untuk memahami apa dan seberapa pentingkah FDI untuk negara kita. Hal ini menarik perhatian saya karena akhir-akhir ini jika kita mengikuti perkembangan ekonomi dunia, khususnya Asia Tenggara terdapat kecenderungan meningkatnya investor global masuk ke region ini. Mampukah negara kita bersaing dengan negara-negara satu region lainnya untuk memperebutkan “kue” yang tidak gratis tersebut? Kenapa tidak gratis, untuk mengetahui lebih lanjut ikutilah jalan cerita berikut.
Perekembangan investasi asing di Indonesia mulai meningkat pesat sejak Era Orde Baru. Sebagaimana kita tahu Era Orde Baru merupakan kelanjutan Orde Lama yang dapat dikatakan sebagai “era pembangunan” dikatakan demikian karena pada masa tersebut negara kita mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler dengan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang positif (pada masa Orde Lama selalu negatif), laju inflasi bisa dikendalikan (pada masa Orde Lama inflasi pernah mencapai 650% dan rata-rata per bulan berada di tingkat 50%), sektor-sektor ekonomi mulai tumbuh dan berkembang (pada masa Orde Lama hanya sektor pertanian saja yang tumbuh), dan yang terakhir adalah investor asing mulai menanamkan investasinya di Indonesia (pada masa Orde Lama terjadi instabilitas politik sehingga berdampak kurang minatnya investor asing untuk investasi di Indonesia). Titik awal pembangunan ekonomi sutu negara seharusnya dimulai katika negara tersebut telah merdeka, namun nyatanya hal tersebut belum mampu dilakukan pada masa Orde Lama.
Kebutuhan investasi suatu negara , khusunya negara yang baru merdeka jelas tidaklah sedikit. Kita tahu bahwa kemandirian itu penting, tetapi dalam konteks investasi ini kemampuan warga negara sendiri dalam berinvestasi yang diwujudkan dalam bentuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sangat dan amat terbatas pada waktu itu sehingga perlu cara lain untuk menghimpun investasi bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Itulah mengapa pada masa Orde Baru kran investasi untuk pihak asing atau disebut Penanaman Modal Asing (PMA) mulai dibuka, bahkan UU untuk PMA ini lebih dahulu muncul sebelum PMDN.
Memang benar bahwa di Indonesia pada masa itu dan mungkin juga sekarang masih mengalami investment gap yang cukup tinggi, dimana kebutuhan akan investasi yang begitu besar untuk menunjang pembangunan belum ter-cover dengan baik. Jenis investasi dibagi menjadi dua yaitu direct investment dan non direct investmet. Direct investment merupakan skema investasi yang diwujudkan dalam bentuk riil aset artinya investor menginvestasikan modalnya ke Indonesia dalam bentuk pembangunan pabrik, pembelian mesin-mesin, pembuatan jalan dan infrastruktur, dll. Skema yang satunya yaitu non direct investment merupakan investasi dalam bentuk portofolio saham atau surat berharga lainnya artinya investor menginvetasikan uangnya dengan membeli saham/surat berharga perusahaan yang ada di Indonesia, meskipun bentuknya beda kedua skema investasi tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan modal. Perbedaan kedua skema investasi ini mempengaruhi dan dipengaruhi banyak hal. Negara penerima investasi, khususnya negara berkembang lebih senang menerima invetasi dalam bentuk direct investment dibandingkan dengan non direct sebab dengan adanya direct investment akan tebuka peluang terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat di negara penerima, mendorong masyarakat untuk meningkatkan skillnya, transfer teknologi dari negara pemberi investasi ke negara penerima, dan yang tidak kalah penting dari skema investasi ini adalah longterm artinya dengan adanya pabrik yang didirikan dari hasil PMA besar kemungkinan pabrik tersebut akan beroperasi secara continous.
Jadi kenyataannya investasi itu masih diperlukan bagi Indonesia untuk mendorong pembangunan ekonomi sebab dengan adanya PMA, saving investment gap yang belum mampu diisi oleh PMDN akan dialiri oleh PMA.

Copyright © 2020 Both, Play Hard Work Hard All rights reserved. Theme by Laptop Geek.